Commando Semua Informasi Terkini Dan Ter-Update

Monday, January 23, 2017

Tangis Bocah Pencari Kayu Bakar, Banting Tulang di usia kanak kanak demi Segenggam Beras - Commando

Tangis seorang Bocah Pencari Kayu Bakar, Banting Tulang di usia kanak kanak demi Segenggam Beras - Commando


C0MANDO.COM - JAKARTA - Masa Kanak Kanak Pada umumnya banyak di isi dengan kegiatan belajar dan bermain bersama dengan teman seusianya. Namun, pada faktanya tidak semua anak bisa menikmati masa kecilnya. Salah satunya adalah Abdul Latif Seorang bocah yang berasal dari Sukabumi, Jawa Barat, dalam usianya yang masih kanak kanak harus terpaksa banting tulang mencari kayu bakar demi memenuhi kebutuhan makan dan sekolah.

Walau Usianya masih 8 tahun Abdul Latif harus banting tulang membantu ibunya mencari kayu bakar. Mirisnya, Hasil kerja kerasnya dalam mencari kayu bakar hanya dihargai Rp7.000.

Tangis seorang Bocah Pencari Kayu Kayu Bakar demi menyambung Hidup Ibu Tercinta - Commando


"Saya berangkat sekolah jam 07.00, pulang jam 12.00. Habis itu membantu ibu ke kebun mencari kayu bakar dan rumput untuk dijual," jelas Latif menahan tangis.

Terkait dengan Nasib anak nya Ibunda Latif, Wanah, hanya bisa memendam rasa sedih dan pilu seorang diri di dalam hati saat melihat nasib anaknya Latif yang seharusnya bermain dengan teman sebaya, harus berpeluh mencari kayu bakar di tengah hutan.

"Kasihan, (Latif) suka inget sama bapaknya. Enggak ngasih jajan. Ibu suka lelah, suka sakit-sakitan, ibu sudah capek ngurus adiknya, untuk makan semuanya," jelas Wanah sembari menahan tangis.

Namun, Latif yang sudah menjadi yatim sejak kecil menyadari bahwa ia tak boleh melepas pendidikan di sekolah. Meski dalam keterbatasan ekonomi, Latif tetap semangat menjalani hari-hari di sekolah yang berjarak 2 kilometer dari rumahnya tersebut.

"Ekonominya sangat lemah sekali, harapan kami, pemerintah atau dinas pendidikan atau yang sejenisnya, bisa membantu dia melanjutkan ke jenjang berikutnya, karena dari potensinya dia bagus dan layak untuk melanjutkan sekolah," ujar Casdik wali kelas Latif di sekolah.

Tangis Latif tak lagi terbendung usai ia menjelaskan bahwa dirinya hanya mendapat upah Rp7.000 dari haril memeras keringat mencari kayu bakar.

"Kalau ibu dapat Rp12 ribu dan aku Rp7.000. Uangnya buat beli jajan dan beli beras. Sedih karena enggak bisa jajan, lihat teman main hati suka sedih," ungkap Latif yang tak bisa membendung air matanya lagi. (okz_)