Commando Semua Informasi Terkini Dan Ter-Update

Saturday, December 3, 2016

Sepenggal Kisah Mengharukan Di Aksi Super Damai Bela Quran Jilid III Kemarin - Commando

Sepenggal Kisah Mengharukan Di Aksi Super Damai Bela Quran Jilid III Kemarin - Commando

SAAT jalan menuju Monas bersama rombongan tadi pagi, di Rawa Bambu, Pasar Minggu, kami berpapasan dengan seorang kakek penjual roti. Dia langsung membuka gerobak dorongnya menyuruh kami mengambil roti. Gratis. Sungguh kakek itu ingin punya andil dalam aksi 212. Tentu saja kami menolak dengan sopan.

Sebelumnya, baru saja melewati pertigaan Pasar Lenteng Agung ada motor tiba-tiba berhenti di depan kami. Sepasang suami-istri di motor itu membagikan bungkusan kantong kresek. Isinya satu botol air, sepotong roti, sebungkus biskuit, dan dua buah permen.

Sepenggal Kisah Mengharukan Di Aksi Super Damai Bela Quran Jilid III Kemarin - Commando

Pas di depan Komplek Batan Pasar Minggu rombongan kami disalip angkot KWK 02. Seorang ibu turun memberi uang. Kami tolak. Kemudian mereka mengajak rombongan kami naik mobil. Ada beberapa KWK 02 yang mereka sewa kosong. Tapi, sekali lagi kami menolak. Akhirnya ibu itu memaksa kami menerima nasi bungkus yang kemudian kami bagikan lagi di sepanjang jalan kepada yang lebih membutuhkan.

Saat melintas di seberang toko mobil-mobilan kayu Taman Makam Pahlawan Kalibata, ada mobil berhenti. Seorang wanita membuka jendela. Ia membagikan botol-botol spray air kangen pH 6. Katanya, untuk mencuci wajah kami yang berdebu bercampur peluh agar kembali fresh.

Di daerah Pedog, Menteng Dalam setelah Universitas Sahid, kami berpapasan dengan seorang nenek. Ia menyorongkan sendal jepit. Ada dua orang dari rombongan kami menerima pemberiannya. Maklum, mereka menggunakan sandal yang “memakan” jari-jari akibatnya full lecet buku jari kakinya.

Di Jalan Minangkabau kami berpapasan dengan seorang bapak menyorongkan bungkusan nasi Padang, sementara beberapa meter setelahnya ada seorang ibu dibantu dua orang anak muda membagikan nasi kotak. Kami yang memang belum sarapan sejak start bakda Subuh memilih bungkusan nasi Padang karena ada seorang Ustadz sejak dari Pancoran berharap di Jalan Saharjo ada warung Padang.

Subhanallah, saat sampai di Cikini, sepanjang jalan setiap maju melangkah selalu saja ada yang menawarkan nasi bungkus, nasi kotak, air, kue…. Subhanallah! Sepanjang jalan Lenteng Agung sampai Manggarai selalu saja ada motor dan mobil berhenti, mengajak kami bareng menuju Monas. Semua semangatnya ingin berbagi! (islampos)