Commando Semua Informasi Terkini Dan Ter-Update

Friday, December 16, 2016

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan : Aleppo adalah Tragedi Paling Memalukan di Abad Ke-21

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan : Aleppo adalah Tragedi Paling Memalukan di Abad Ke-21 - Commando

ANKARA - Presiden Negara Turki Recep Tayyip Erdogan menyebutkan jika bahwasanya saat ini Negaranya tengah membahas situasi saat ini di Aleppo dan Irak dengan Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada hari Kamis.

“Kami berbincang cukup lama dengan Obama tentang masalah evakuasi di Aleppo, dan ia bertanya bagaimana dia bisa membantu,” kata Erdogan, lansir World Bulletin.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan : Aleppo adalah Tragedi Paling Memalukan di Abad Ke-21 - Commando

Bahkan dalam hal ini juga Presiden Turki Erdogan menyebutkan jika pembantaian dan penindasan yang dilakukan terhadap orang-orang di Aleppo dilakukan di tempat terbuka di depan seluruh dunia.

“Aleppo adalah tragedi kemanusiaan paling memalukan di abad ke-21. Jika kita ingin menghasilkan solusi di Suriah, Aleppo harus di bawah kontrol,” kata Erdogan.

Sekitar 1.150 warga sipil, termasuk korban luka-luka, telah tiba di kota Idlib Suriah pada hari Kamis malam waktu setempat.

“Kami terus memantau proses gencatan senjata dan kami akan terus melakukannya. Tentunya, jumlah [orang yang terperangkap di Aleppo] tidak begitu kecil. Saya berharap ini [gencatan senjata] tidak akan dilanggar lagi, “tambahnya.

Menurut kesepakatan antara rezim Assad dan kelompok oposisi Suriah, warga sipil yang dievakuasi dari Aleppo Timur akan diarahkan ke Idlib, yang terletak dekat perbatasan dengan Turki.

Pada hari Kamis, kelompok pertama warga yang dievakuasi dari Aleppo mencapai zona aman yang dikuasai oposisi di Suriah, demikian menurut Wakil Perdana Menteri Turki Veysi Kaynak.

Kekerasan meningkat di kota Aleppo pada hari Senin lalu, ketika pasukan rezim Suriah menggempur wilayah yang dikuasai oposisi di bagian timur kota setelah pengepungan selama lima bulan dan pemboman udara secara terus-menerus.

Sekitar 80 ribu warga sipil diyakini masih terperangkap di Aleppo. []