Commando Semua Informasi Terkini Dan Ter-Update

Monday, November 7, 2016

Panglima TNI : yang memicu kerusuhan saat demo 4 Nov Bukan Peserta Aksi Namun Kelompok Lain - Commando

Panglima TNI : yang memicu kerusuhan saat demo 4 Nov Bukan Peserta Aksi Namun Kelompok Lain - Commando

C0MANDO.COM - JAKARTA - Jika Sebelumnya Presiden Joko Widodo menyebutkan jika Unjuk Rasa yang dilakukan oleh umat muslim pada tanggal 4 November lalu yang berubah menjadi rusuh karena ditunggangi oleh aktor politik. Sedangkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengaku jika bahwasannya dirinya dan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian sudah mengetahui ada kelompok yang lain yang sudah merencanakan kerusuhan saat demo tersebut.

Panglima TNI : yang memicu kerusuhan saat demo 4 Nov Bukan Peserta Aksi Namun Kelompok Lain - Commando

"Bada isya ada kelompok yang sudah merencanakan berbuat rusuh. Sudah kami ketahui, sehingga prajurit dan kepolisian sudah diperispakan untuk menghadapi itu," ujar Panglima TNI, Sabtu (5/11), seusai bertemu ratusan personel TNI dan Polri yang melakukan pengamanan demo 4 November, di Silang Monas.

Menurut Panglima TNI, anggota Polri dan TNI tidak beraksi ketika dilempari. Diungkapkan, aksi tersebut sudah direncanakan karena pelaku membawa panas dan bambu runcing sehingga banyak petugas keamanan yang kesakitan lantaran kena tusuk.

"Itu mereka anak-anak kecil, umur 14-15 tahun, ada yang bawa ketapel. Setelah saya dan Kapolri memberi peringatan menggunakan mik, para demonstran yang asli langsung mundur. Sedang yang lainnya maju terus. Mereka memancing agar aparat bertindak kasar. Itu semua ketahuan," ujarnya.
Kapolri Tito Karnavian menambahkan memang ada pihak-pihak yang sengaja melakukan provokasi dan menyerang aparat.

Provokasi dilakukan dengan cara melempar petugas keamanan, namun petugas tetap diam dan tidak terpancing. Namun banyak anggota yang terluka, yakni ditusuk. "Yang luka ada sebanyak 18 orang, satu luka berat di kepalanya dan masih dirawat di RSPAD. Sedangkan 12 lainnya di RS Polri," tambah Tito Karnavian.

Gatot Nurmantyo dan Tito Karnavian, Sabtu, bertemu personel TNI-Polri yang terlibat dalam pengamanan demo 4 November. "Saya dan Pak Kapolri menyampaikan terima kasih, mewakili polisi dan prajurit TNI di seluruh Indonesia," kata Gatot Nurmantyo.

Menurut Gatot Nurmantyo, dia bersama Kapolri mengumpulkan pasukan di Monas untuk menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan dari Presiden Joko Widodo kepada Polri dan TNI atas kinerja pengamanan demo menuntut proses hukum terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Tito Karnavian menambahkan pengamanan tersebut membuktikan Polri dan TNI sangat solid untuk menghadapi kelompok-kelompok yang melakukan pelanggaran hukum.

"Demonstrasi tidak dilarang karena memang aturan hukum memperbolehkan. Tapi dari analisis kami dan Panglima TNI, kami melihat ada memang elemen yang sengaja (memicu kericuhan)," katanya.
Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) membantah kadernya menjadi pemicu kerusuhan demo 4 November di Istana Negara.

Ketua Umum PB HMI Mulyadi P Tamsir mengatakan, bendera HMI yang dibawa saat demo 4 November berwarna hijau tua dan tiang benderanya menggunakan bambu belah.

"Foto yang tersebar itu benderanya warna hijau muda, HMI itu hijau tua dan kami buat 500 bendera. Tiang bendera juga bambu belah, sedang di foto itu saat melakukan pemukulan pelaku menggunakan bambu bulat," tutur Mulyadi di Sekretariat PB HMI, Jakarta, Sabtu.

Sebelumnya Mabes Polri merilis foto-foto pihak yang diduga sebagai provokator kerusuhan. Dalam foto terlihat seorang pria menyerang polisi dengan bambu. Pria itu sebelumnya bergabung dengan massa yang membawa atribut HMI.

Mulyadi juga membantah ada bentrokan antara kader HMI dan massa dari Front Pembela Islam (FPI).
"Tidak benar ada keributan antara HMI dan FPI, kami menyesalkan adanya insiden kerusuhan pada ujuk rasa di depan Istana Negara yang mengakibatkan banyak korban berjatuhan," papar Mulyadi.
Mulyadi pun mengimbau, kepada seluruh masyarakat dan kader HMI, kader Pemuda Islam Indonesia (PII), dan kader Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) untuk tetap tenang. (Tribun)